Raihan-ku 2 tahun..

Alhamdulillah, Raihan anakku sudah dua tahun. Tak terasa, ternyata waktu berjalan sangat cepat. Raihan-ku kini sudah lebih lincah sejak saya tinggalkan di usianya yang baru 21 hari. Raihan-ku kini sudah bisa mencicipi berbagai macam makanan dengan suapannya sendiri sejak saya tinggalkan sesuap bubur buatan mama di usianya 6 bulan. Raihan-ku kini makin sangat menikmati air di kolam renang sejak saya ajarkan dia ‘menyentuh air’ di usianya 1 tahun. Raihan-ku kini sudah bisa berlari kesana kemari sambil joget-jogetan sejak saya memapahnya ketika mengunjungiku diusianya 1 tahun 5 bulan.

Masih ingat rasanya ketika mama berjuang selama lebih dari 6 jam melahirkan Raihan,  bagaimana berjuangnya mama untuk tetap memberikan ASI karna sudah harus kembali ke kantor, bagaimana riangnya mama ketika Raihan sudah bisa menahan kepalanya di usia 3 bulan, betapa bangganya mama ketika Raihan sudah belajar tengkurap, ketika Raihan pertama kalinya terima uang angpau di lebaran pertamanya, ketika Raihan di usianya yang 5 bulan 3 hari sudah bisa tengkurap,  ketika Raihan menjadi sarjana ASI di usianya enam bulan,  ketika pertama kali MPASI, bagaimana mama menjadi McGyver buat Raihan, bagaiamana lucunya Raihan ke posyandu,  ketika Raihan sangat senang dengan buku pertamanya, ketika raihan sudah bisa duduk, ketika mama menjadi koki handal buat Raihan, ketika Raihan tumbuh gigi pertamanya, bagaimana siaganya mama kalau harus OTS, ketika usianya di 11 bulan sudah ber-paspor, saat Raihan dikenalkan UHT, bagaimana riangnya Raihan di lebaran keduanya , sibuknya Raihan ketika ditinggal ART.

Pokoknya masih banyak lagi cerita demi cerita yang terangkai oleh mama. Sehingga papa tetap  ‘dekat’ dengan Raihan.

Papa dan Raihan memang sangat jauh jaraknya, ada ribuan mil, dipisahkan benua, rentang waktu yang sangat panjang. Ketika papa sudah mau beranjak tidur, Raihan dan mama sudah menapaki subuh dan mama siap berangkat bekerja. Ketika mama sudah siap di rumah, papa masih berkutat dengan ‘nemo’ di dalam laboratorium.

Tapi, rasa-rasanya itu jadi tak berarti karna mama selalu menyediakan ‘tempat’ dan kasih sayang sehingga semuanya itu tak terasa. Papa tetap selalu menjadi merasa ‘istimewa’, karena setiap perkembangan penting Raihan, saya ‘ada’ disana.

Terima kasih Mama…Tak cukup rasanya untuk mengungkapkan rasa sayang ke mama hanya dengan tulisan ini.. I LOVE YOU sooo.. Terima kasih sudah menjadi mama dan istri yang luar biasa..Terima kasih karena selalu menjadikan papa ‘istimewa’ di depan Raihan..

Selamat ulang tahun yang kedua buat anakku Raihan

Semoga menjadi anak yang pintar, cerdas dan sholeh

Maafkan papa yah karena tidak bisa ada disamping Raihan untuk bersama-sama meniup kue ulang tahun... Tapi setiap bait doa papa akan selalu ada nama Raihan disitu…

Selamat ulang tahun anaknya papa, si bucu-bucu, monsternya mama..

Insha Allah waktunya akan segera tiba, Allah maha tahu yang terbaik untuk kita bertiga..

Peluk dan cium buat mama dan raihan

Bremen, 11.05.2010

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: