imajinasiku terbang kala itu…

Raihan dan papa di Airport Hamburg

Entah kenapa, saya terbayang lagi hari dimana perpisahan dengan istri dan anak ketika akan pulang setelah berlibur di Bremen selama tiga pekan, pada bulan Oktober 2009. Hari itu di penghujung Oktober, tiba juga masa mama dan Raihan harus kembali ke tanah air. Malam sebelum pulang, mungkin firasat, raihan sangat gelisah, dan susah untuk tidur, malah mengajak saya bermain kemah2an di bawah selimut, tanpa terasa, air mata saya berlinang, saya menangis meski saya berusaha untuk tegar, tapi tetap saja air mata terus mengalir. Saya menyeka air mata ketika raihan menatap saya dan tetap tersenyum, berusaha agar dia tidak tidak bingung dan ikutan sedih. Meski sebenarnya, dia sudah punya firasat itu bahwa akan berpisah, tapi saya tidak tahu.

Esoknya, kita menuju Hamburg Airport, semuanya terasa hampa, hampa karena akan dipisahkan oleh jarak dan waktu yang begitu jauh, hampa karena akan berpisah dengan kekasih hati. Perasaan berpisah kali ini sangat terasa karena saya yang akan ditinggalkan, semua kenangan selama tiga minggu ini, pasti akan membekas. Sesampai di airport, kita check in dan segera mencari tempat makan. Setelahnya, saya dan istri mengantar raihan melihat-lihat pesawat di anjungan gedung. Lagi-lagi saya berusaha tersenyum supaya istri saya kuat juga. Tak lama kemudian, waktu semakin dekat, kitapun bergegas menuju pintu keberangkatan. Sungguh perasaan sedih sudah memuncak, perasaan sesak di dada teramat sangat, saya terus mengikuti langkah istri saya dan raihan dari jauh, ketika pengecekan tas. Setelahnya, kami pun saling melambaikan tangan, yang sudah dibentengi oleh dinding cermin bandara, tak henti2nya air mata mengalir dan rasa sesak di dada. Saya bisa melihat dan merasakan kepedihan hati istri saya. Melihat senyum anak saya, Raihan.

Saya beberapa kali berhenti untuk duduk di dalam bandara, sebelum memutuskan untuk kembali ke Bremen. Di sepanjang perjalanan, saya tidak peduli lagi, orang-orang melihat saya menangis. Saya sangat sedih, kenapa harus seperti ini. Saya terus memanjatkan doa, supaya hati ini dikuatkan, dan perjalanan istri dan anak saya selamat sampai kembali di Kendari.

Kini ketika tumbuh kembang raihan sedang pesat-pesatnya, saya hanya bisa berimajinasi sambil tersenyum, ketika istri menceritakan bagaimana tingkah raihan. Sudah puluhan folder foto yang saya susun dengan rapi, karena hampir setiap akhir pekan, istri saya sangat rajin mengirimkan foto dan video aktifitas raihan.

Insya Allah, kontak batin antara Raihan dan saya akan selalu terjaga. Mama, terima kasih ya sayang atas semua cinta dan perhatiannya…. Mudah-mudahan kita secepatnya dipertemukan lagi, Amiin…

    • antonia
    • March 14th, 2010

    salam kenal…

    kuatkan yahh..seneng deh klo banyak papa yang bisa share..:)

  1. you both can face it …. time will moving fast ..

      • bunghaw
      • March 8th, 2010

      thanks a lot!

  2. be strong ya bang, insya Allah perpisahannya untuk thollabul ilmi, mencari ilmu, semoga ada pahala penuh berkah di setiap detiknya :)

      • bunghaw
      • March 8th, 2010

      thanks ya mi.. amiin doanya..

  1. March 8th, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: