Persiapan ke Jerman

the-good-study-guideTahun ini sudah terjaring lagi penerima beasiswa DAAD. Beberapa diantaranya ada teman saya. Nah, pasti banyak yang dipikirkan pada saat sudah menerima beasiswa DAAD. Salah satunya persiapan menuju negara Jerman. Fisik dan mental sudah harus siap, karena pasti akan mengalami shock biologis dan tentunya shock kultur atau budaya. Untungnya sih selama persiapan bahasa selama 2 bulan di Goethe Insitut Jakarta, kita juga ada sesi perkenalan budaya. Baik budaya bermasyarakat atau bagaimana bergaul di lingkungan universitas. Terutama bagaimana menghadapi dosen dan profesor. Pasti beda banget!!! Sudah saya buktikan!!! Kita masih terpengaruh dengan budaya ’nrimo’ dan takut berkata ’tidak’ untuk profesor, pastinya selalu meng’iya’kan, padahal tidak setuju. Hal-hal kecil itu, pasti jadi kendala dalam menjalani studi. Untungnya, saya berada dibawah bimbingan profesor dan asisten profesor, yang sudah pernah ke Indonesia. Jadi, dia sering mengingatkan bagaimana bersikap, karna dia tahu betul karakter orang Indonesia.

Biasanya sih urusan administrasi seperti visa, sudah diurusi sama staf DAAD. Jadi kita tinggal mengisi berkas saja. Nah yang musti kita siapin sendiri adalah semua berkas-berkas akademik penting sebaiknya dibawa (disertai dengan kopi-nya yang terlegalisir). Yang gak musti dibawa adalah buku yang di pake di Goethe, karna kita pasti dibagikan buku baru lagi disini, kalau saya di Speak and Write Marburg.

Peralatan tempur pribadi jangan juga dilupa. Berikut ini beberapa barang yang dulunya saya bawa (dan berguna) : jaket winter (1 aja, pas nyampe disini juga ada yang murah koq!), long jhon alias daleman penahan dingin (sebaiknya bawa aja 3 atau 4, kadang susah cari ukurannya disini hehehe), kupluk (sebaiknya dari wool soalnya anget!), syal yang agak tebal aja (cukup satu lah, disini banyak koq!), sarung tangan dan kaos kaki wool, tiga macam pelembab (bibir, muka dan badan), sepatu kets (1 pasang aja), sepatu resmi juga satu pasang aja, baju batik, toiletries dan bekal makanan untuk satu minggu (jaga-jaga aja, sampe nanti nemu juga koq tempat makan misalnya kebab, dan toko asia).

Tahu bangetlah perasaannya bagaimana menyiapkan itu semua, pasti ribet. Tapi kuncinya bikin list, jadi lebih mudah mengaturnya. Jangan lupa bawa flash disc, sama data-data penting. Trus yang paling penting, bawa foto orang terkasih dong hehehehe…

Okeh, selamat menyiapkan perjalanan (nah selama perjalanan asyik juga kalo ditemani dengan MP3 player)….Dulu sih naiknya dengan Etihad Airways, murah meriah, full hiburan (musik dan film)..so MP3 player nya gak kepake…

image source here!

    • Via
    • April 9th, 2011

    Ass,Bunghaw….

    Suami sy penerima beasiswa DAAD thn 2011 di Jacobs University Bremen.Kira2 Bunghaw punya kenalan yg mnyewakan wohnung utk suami istri tnpa anak.Kl bs,didekat Jacobs university,dan muslim.
    Soalnya sy prnah baca blog istri bunghaw yg mnceritakn betapa nyamannya menyewa rmh yg pemiliknya muslim:)
    Sebelumnya trm ksih…

  1. permisi bunghaw,
    saya mau numpang nanya
    utk melamar DAAD itu harus punya pengalaman kerja min.2 thn setelah lulus s1 ya?
    kalau misalnya saya punya pengalaman kerja 2 thn tp terhitung setelah kelulusan saya dr D3,trus selama masa kerja saya melanjutkan s1, kira2 bisa dipertimbangkan ga?
    terima kasih atas infonya

      • bunghaw
      • August 17th, 2010

      hallo norka,
      sori telat jawabnya. tapi deadline DAAD masih oktober kan.Kalo punya pengalaman kerja dicatat aja semua, masukin kedalam CV. pastinya akan dipertimbangkan. kalo bisa semua ijazah2, sertifikat, piagam dll semuanya di copy dan disertakan kedalam berkas lamaran (biar ada nilai tambah).
      sukses yah.

      Hawis

    • dhani lestari
    • January 28th, 2010

    Hallo Bunghaw,
    nama saya Dhani Lestari, saya salah seorang penerima beasiswa DAAD untuk tahun 2010 ini. saat ini saya bekerja sebagai dosen di fakultas farmasi universitas Airlangga, Surabaya. saya dapat link ini dari penerima beasiswa DAAD 2010 juga. kami, para penerima beasiswa DAAD, justru sebenarnya sedang bingung, karena kami diharuskan untuk 2 bulan persiapan bahasa di Goethe Institute Jakarta dengan biaya ditanggung DIKTI. Namun,banyak rekan-rekan (termasuk juga saya) yang bingung mengenai masalah uang saku selama kita kursus di GI Jakarta, karena biaya hidup di Jakarta cukup tinggi,dan kami rata2 dari luar Jakarta dengan standar gaji PNS. sedangkan kejelasan uang saku dari DIKTI belum ada. kalau dari pengalaman Bunghaw kemarin, bagaimana mengenai masalah ini? kalau berkenan, tolong share pengalaman dengan kami. Ini saya masih coba hubungi contact person dari DIKTI yang diberikan oleh ibu Endah – DAAD, namun ybs belum ada di tempat ketika saya hubungi. terima kasih atas waktunya. sukses buat studi PhDnya ;)

      • bunghaw
      • January 28th, 2010

      Hallo..
      Selamat yah utk beasiswa DAADnya.
      Untuk biaya selama kursus memang ada insentif dari Dikti, tapi dulu memang kita terimanya pas kursus sudah mau berakhir. Dulu staf dari Dikti langsung mendatangi kita di Goethe jakarta. Insentif dari Dikti berupa uang bulanan dan transport, saya lupa kemarin berapa besarnya (sekitar 1 jutaan kalo ga salah), tapi ini cukup membantu, soalnya saya ngelaju bogor-jakarta tiap hari.
      sukses yah persiapan bahasa dan ke jermannya…
      btw, ada yg ke uni-bremen?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: