Islam, Hijrah, Jihad dan Humanisme

JihadBaru aja sampe rumah balik dari pengajian Bremen. Sejak di Bremen baru dua kali bisa ikut, pertama pas bulan puasa kemaren, dan kedua yg skr ini. Ajang yg bagus buat gw, krn otak ini harus terus diingatkan ke arah yg lebih baik hehehe…Ini berusaha mengingat kembali nih apa aja yang diceramahkan tadi. Kebetulan ada rombongan dari UIN Alauddin Makassar. Nah mereka inilah yang menjadi narasumber pada pengajian kali ini. Dan diskusi juga berjalan sangat edukatif dan hikmat..

Tema pengajian tadi berkisar pada kebangkitan Islam, Hijrah, Jihad dan Humanisme. Tadi datangnya agak2 telat sih, mungkin sudah banyak yg dibahas, tapi inti ceramah seperti itulah. Mungkin merefleksikan dengan kondisi bangsa kita skr ini yang semua dalam kondisi krisis. Ekonomi, Politik, Sosial, budaya dan masih banyak lagi lainnya. Intinya sih di Moral. Bagaimana kita menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari..Karena itu adalah tunas untuk kebangkitan..

Hijrah harus selalu dilakukan secara berkelanjutan. Berhijrah ke jalan Allah. Dari yang buruk ke arah yang di ridhoi. Artinya kita akan terus berusaha setiap hari untuk menjadi lebih baik. Jadi ingat akan sebuah nasehat : Hari Ini Harus lebih baik dari kemarin, karena jika tidak merugilah… Perbaikan harus terus dilakukan.

Belakangan ini pastilah kita banyak mendengar kata jihad. Tapi apakah jihad identik dengan perang? ternyata tidak. Jihad diartikan secara harfiah berjuang di jalan Allah. Jika kita refleksikan dengan keadaan skr, kita semua bisa berjihad di bidang kita masing-masing. Baik di bidang pendidikan, agama, olahraga dan lainnya. Arti humanisme disini adalah bagaimana memanusiakan manusia dengan tetap menjaga hubungan dengan Allah. Saling menghargai dan menghormati. Jangan sampai, agama dikesampingkan dalam menyusun berbagai hal. Mungkin di Jerman, agama banyak yg menganggap sebagai tradisi, dan kebanyakan keputusan diambil dengan mengeyampingkan Tuhan. Tapi kalo ditelaah lebih jauh. Justru Jerman banyak tuh mengambil nilai-nilai positif islam. Misalnya ketepatan waktu (dalam segala hal, misal saja bus tram kereta, ya kan!). Nah di islam kan sudah diajarkan bagaimana menghargai waktu (sholat saja sudah ada 5 kali dalam sehari). Trus di Jerman pun mengharuskan semua orang berpendidikan mulai dari kecil (bayangkan saja, jika anak kecil sudah waktunya untuk TK, dan orang tuanya belum memasukkannya, maka pastilah datang surat peringatan, keren kan). Nah itu juga di Islam sudah diajarkan, supaya kita terus berilmu sejak dari kecil. Nah masalahnya, apakah negara kita sudah mengamalkan nilai-nilai islam secara kaffah? sepertinya kita harus terus berjuang ya..

Mungkin pembahasan gw gak terlalu ngena, tapi itulah yg coba gw petik dari pengajian tadi. Jadi maap maap kalo ada kekeliruan yeee.. Well, satu kalimat yg paling teringat adalah bagaimana pentingnya bersyukur. Salah satu penceramah menuturkan : “tidak semua yang ku suka aku dapat, makanya aku suka yg sudah aku dapatkan”. Yup! itu kalimat singkat namun mengandung arti yang sangat dalam. Bagaimana kita disetiap target yang kita tentukan pasti tidaklah semua terwujud, tapi bagaimana kita mensyukuri apa yang kita dapat. Karena bisa jadi apa yang kita dapat belum tentu orang punyai. Jadi bersyukurlah…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: