Ikan juga makhluk sosial!

Ternyata ikan juga bisa dikategorikan sebagai makhluk sosial. Di dalam menjalani hidupnya di dalam air, mereka banyak menggunakan insting dalam melakukan pergerakan. Semua itu dilakukan demi bertahan hidup di tengah ganasnya sistem mangsa memangsa di dalam ekosistem tersebut, misalnya terumbu karang. Mulai dari bagaimana membentuk suatu pertahanan untuk wilayah teritorinya, memberikan warna yang khas untuk mudah dikenali oleh kerabatnya, maupun membentuk hubungan kerjasama yang saling menguntungkan. Wah hebat juga yah!

Kekuasaan wilayah (Teritorial Behaviour)

Dalam menjaga daerahnya ikan-ikan tertentu akan melawan kompetitor dan pengganggu yang tidak diinginkan. Penjagaan daerah bervariasi tergantung dari gaya hidup masing-masing ikan. Ada yang mempunyai teritori permanen, seperti ikan Gobi dengan lubangnya atau ikan belut raksasa (moray eel) di relung-relung terumbu karang. Ada pula jenis ikan herbivora seperti ikan mayor (damselfish) yang sangat galak dan protektif pada daerah feeding ground-nya, ikan ini akan mematuk siapapun yang masuk daerah teritorinya, termasuk para penyelam! Selain itu, ikan kakaktua (parrotfish) membentuk mucus seperti kelambu pada malam hari di dalam relung terumbu demi menjaga tidurnya yang lelap, seperti terlihat pada gambar disamping. Banyak tanda yang mereka tampilkan untuk menakuti lawan jika mendekati teritorinya. Tanda pertama yang kebanyakan ikan lakukan misalnya dengan meregangkan sirip-siripnya dan kadang juga penutup insangnya. Jika aksi ini gagal, maka mereka akan melakukan gerakan menakjubkan dan kadang mengeluarkan suara peringatan tertentu. Luar biasa!

Pewarnaan (Social Colours)

Pada populasi karang yang padat, proses interaksi antara ikan sangat sering, dan respon yang benar sangat penting. Ikan Thalassoma lutescens (Labroid) pada gambar disamping memiliki kemampuan untuk mengenali warna dan membagi daerah kekuasaan dengan sesama jenisnya. Ikan yang aktif di siang hari (diurnal) dan hidup di perairan dangkal mempunyai penglihatan warna yang baik. Warna juga sangat signifikan untuk beberapa ikan pada saat musim pemijahan. Misalnya, beberapa jantan memperjelas warnanya sebagai isyarat siap untuk kawin, dan ini sudah menjadi ritual yang kompleks dalam masa mencari pasangan. Tanda warna yang bisa dikenali biasanya pada sirip. Warna bisa juga sebagai tanda bahwa ikan tersebut berbahaya dan sangat beracun untuk dimakan, misalnya ikan lepu ayam.

Hubungan kerjasama (Cooperative Relationships)

Tidak semua hubungan antar spesies bersifat kompetitif. Sebagai contoh simbiosis antara ikan badut dan anemon laut atau ikan pembersih (labroid) dengan para ikan berparasit lainnya. Kerjasama seperti ini sangat banyak dan bervariasi di dalam ekosistem terumbu karang.

Ikan badut dengan anemon laut: Ikan anemon umumnya dikenal sebagai ikan badut atau Nemo. Ikan ini mempunyai asosiasi spesifik dengan anemon laut. Ikan tersebut sangat bergantung pada perlindungan tentakel penyengat dari tuan rumahnya (anemon laut) yang tidak pernah mereka temukan di tempat lain. Keuntungan kerjasama tidak hanya dari satu pihak saja: ikan badut bisa seperti tameng, misalnya mengusir ikan kepe-kepe yang ingin makan tentakel anemon. Selain itu, ikan badut juga membersihkan kotoran dan parasit dari anemon laut. Meski anemon laut mempunyai sel penyengat (nematocysts), akan tetapi ikan badut tidak tersengat karena sudah terlindungi oleh lapisan mucus. Substansi mucus bekerja dengan cara yang sama pada perlindungan anemon itu sendiri bila dia tersengat oleh penyengatnya sendiri. Teori yang popular adalah ikan badut mendapatkan mucus dari anemon saat tubuhnya tersapu tentakel. Alternatif dugaan adalah sistem imunitas ikan badut mempunyai daya adaptasi dari mucus. Pada sisi lain penelitian lain memperlihatkan bahwa ikan perlu sering berinteraksi dengan anemon dan dapat tersengat bila berpisah lama dengan anemon.

Ikan pembersih dengan stasiunnya: ikan tertentu mempunyai aktivitas makan yang tidak hanya memberi mereka akses pada sumber makanan yang banyak tapi juga memberikan pelayanan yang penting. Ikan pembersih (Labrodies dimidiatus) mengambil parasit ikan lain dan memindahkan kulit yang mati dan terinfeksi dari sekitar luka. Teritori mereka mencakup satu atau lebih individu, dikenal sebagai “stasiun pembersih”, merupakan daerah yang dikunjungi oleh ikan-ikan yang perlu perawatan atau penanganan. Sebagai contoh di perairan terumbu karang Kepulauan Seribu yang dangkal mempunyai sejumlah stasiun dimana ikan dari berbagai ukuran dan bentuk dapat dilihat sedang mengantri menunggu gilirannya untuk dibersihkan. Ikan pembersih berukuran kecil sehingga dapat membersihkan insang dan masuk ke dalam mulut pasiennya yang lebih besar. Kombinasi dari garis tubuh dan warna serta kebiasaan renang membuat para ikan pembersih ini dikenali dan dihargai, dan tentu saja tidak akan pernah dimakan oleh pelanggannya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: