Marburg : Auf wiedersehen…

Tak terasa, semua cerita-cerita di Marburg akan segera berakhir, kursus bahasa sudah di titik akhir dan segera saya akan melangkahkan kaki ke kota Bremen, dimana saya akan menempuh studi. Teringat 4 bulan yang lalu ketika memulai kehidupan baru disini, di Marburg. Sebuah awal perjalanan hidup di Jerman, yang punya selisih waktu 5-6 jam dengan Indonesia. Berlima kami menjalani semuanya itu dengan rasa persaudaraan…

Semuanya masih terekam dengan sangat jelas, ketika kami harus mengangkat koper-koper di tangga Haupthbahnhof karena tidak ada lift atau eskalator, ketika kami menemukan kebab turki yang super angebot yang akhirnya menjadi langganan sampai sekarang, ketika semuanya terbangun tengah malam karena jam biologis masih Indonesia, ketika kami mengetahui letak mesjid yang satu-satunya di Marburg dengan jalan kaki, ketika saya dengan sangat paniknya pada waktu meninggalkan hotel dan melupakan dokumen-dokumen penting yang tertinggal di lobby hotel. Namun, semuanya serasa menjadi awal yang sangat luar biasa pada waktu itu. Teringat pula, bagaimana kami mencari tahu cara membayar karcis bus, jadwal bus dan rute bus seperti orang bloon. Ketika pertama kalinya membeli barang di flohmarkt. Dan yang paling mengharukan dan menggembirakan ketika kami berhasil memasak nasi dan ayam goreng untuk pertama kalinya, ketika mengatur jadwal masak, belanja dan internet, dan ketika berurusan dengan T-Mobile dan O2 yang sangat kompliziert… Huuuhhh pengalaman yang sangat menarik dan sedikit (…uupss mungkin lumayan….) memalukan. Namun kini menjadi sangat indah untuk dikenang…

Ketika kursus berlangsungpun, kami sepakat untuk menjelajahi kota-kota di Jerman sebanyak-banyaknya. Mumpung masih berlima dan pas untuk tiket akhir pekan (shoenes wochenende tiket) yang bisa untuk 5 orang. Semua dijabanin mulai dari tidur di hauptbahnhof, kejar-kejar dengan umsteigen yang kadang hanya 2 menit peralihan, dan naik taxi untuk mengejar stasiun berikutnya karna salah turun stasiun….What an experience! Jadilah Mainz, Köln, Frankfurt am Main, München, Berlin, Potsdam, dan Heidelberg. Trip Weimar, Eisenach, Spiegelslust dan terakhir ke Kassel dari tempat kursus pun tak luput dilewatkan. Serta pertemuan DAAD di Bonn juga dijadikan ajang jalan-jalan. Sudah berfolder-folder dan ber-gyga-an foto-foto yang dihasilkan.. mmmhhh… Narsisme memang harus terus dipupuk….

Di tempat kursuspun memberikan nuansa yang berbeda. Sangat menyenangkan mengetahui berbagai karakter bangsa, meski kadang membuat hati kesal tapi kalau dipikir-pikir menarik juga dan menjadi pelajaran berharga. Lebih dari sepuluh negara tergabung dalam satu kelas selama 4 bulan, Bangladesh, Palestine, USA, Israel, Nepal, Irak, Kazakstan, India, Thailand, Iran, Tanzania, Serbia dan tentu saja Indonesia. Semuanya menjadi satu! Dan selama itu pula kami diajar oleh satu orang guru yang sangat baik, Katharina Pfeiffer. Mungkin kita satu-satunya kelas yang gurunya tidak diganti. Disinipun kami bertemu dengan 2 orang Indonesia lainnya..Satu hal yang bikin bete disini adalah Mrs Jutex sang sekretaris…huuuhhh..

  1. March 12th, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: