Dirgahayu Indonesia!

Indonesia berasal dari dua bahasa yakni pertama kata Indus yang berarti “India” yang berasal dari bahasa Latin dan kata kedua Nesos yang berarti “pulau” yang diambil dalam bahasa Yunani. Jadi, kata Indonesia berarti wilayah India kepulauan, atau kepulauan yang berada di India, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat. Indonesia terdiri dari 17,508 pulau, yang tersebar dari Pulau Papua sampai Pulau Weh.

Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk “Kepulauan India atau Kepulauan Melayu”. Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India. Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia (Indië); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 oleh Eduard Douwes Dekker, lebih dikenal dengan nama pena Multatuli, adalah penulis Belanda yang terkenal dengan novel satirisnya Max Havelaar (1860), yang berisi kritiknya atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang Indonesia.

Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkaran akademik diluar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik. Adolf Bastian dari Universitas Berlin mempopulerkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang mengunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers-bureau di tahun 1913.

Dan tahun 1928, nama Indonesia semakin bergema setelah para Pemuda mengadakan Kongres yang berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI dan masih banyak lainnya. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.

Tahun 1945, atas nama Bangsa Indonesia, Soekarno dan Muh. Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949, selang empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Pengakuan ini dilakukan ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdama yang diwakili Muhammad Hatta.

Jadi, kita sebagai penerima warisan kemerdekaan, seharusnya dan sepatutnya dapat mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang membanggakan. Setidaknya di masing-masing bidang kita sendiri bisa berkarya dengan baik. Entah itu di bidang pendidikan, olahraga, politik maupun di pemerintahan. Mari kita saling mendukung untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

(disari dari sumber: http://www.id.wikipedia.org)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: