Kepulauan Anambas, Riau

Tanggal 27 Februari sampai 6 Maret di Kepulauan Anambas, Riau. Tepatnya di Pulau Matak, Pulau Siantan, Pulau Mubur dan Pulau Pahat. Disini kita melakukan survey dalam rangka community development. SUrvey yang dilakukan berupa terumbu karang, mangrove, kualitas air dan ekonomi masyarakat. Tim ini terdiri dari Staf Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.Semakin banyak saya ke daerah2 terpencil semakin menguatkan komitmen saya untuk menjelajahi seluruh wilayah pelosok Indonesia, mudah2an nanti bisa terwujud. Setiap ke daerah baru, pasti ada rasa penasaran tentang daerah itu.

Di Pulau ini, saya bisa menemukan orang-orang masih banyak dibawah garis kemiskinan, namun mereka terlihat sangat bahagia dan tidak ada beban. Rumah-rumah umumnya berada di pinggir pantai sampai diatas air laut, mengingatkan saya akan suku Bajo. Namun, penduduk disini sangat beragam, mulai dari bugis, melayu, jawa, bahkan sunda (yang notabene jarang banget saya temukan di daerah seperti ini di t4 lain). Kehidupan sangat damai dan tenteram, dan waktu berjalan sangat lambat. Disini kendaraan banyak motor, tapi sepertinya tidak pernah bayar pajak dan kebanyakan tidak punya plat. O iya, semua kendaraan motor disini disebutnya HONDA, meskipun itu brand suzuki, yamaha, atau apapun, pasti disebut honda.

Untuk pertama kalinya pula saya memakan telur penyu disini (meskipun merasa bersalah banget!), tapi ditawari oleh penghuni pulau malah disuruh bawa pulang beberapa. Di Pulau Pahat merupakan daerah tempat peneluran penyu, dan di pulau ini hanya di huni oleh 3 orang. Dan setiap waktu ada beberapa nelayan yang berteduh dan beristirahat. Penyu disini ada dua jenis yaitu penyu sisik dan penyu hijau. Namun kepadatan penyu sisik lebih banyak dibandingkan dengan penyu hijau. Dan di daerah ini masih marak pula perdagangan telur penyu (miriz banget sih dengarnya), dan belum ada upaya kongkrit dari pemerintah setempat.

Terumbu karang yang ada di daerah ini juga cukup eksotis, meskipun di beberapa titik sangat parah, dan terlihat kalau di daerah ini pernah ada praktek destructive fishing. Umumnya nelayan disini  menggunakan tali pancing untuk menangkap ikan. Dan ilegal fishing masih kerap terjadi, terlihat dari banyak kapal-kapal Thailand dan Vietnam yang ditangkap oleh AL, dan disandarkan di dermaga.

Pokoknya pengalaman di Anambas, memberikan pengalaman dan perspektive baru tentang kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir di daerah terpencil.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: